Kontribusi jamu ke PDB industri obat tradisional disebut masih di bawah 0,3 persen.
Purwokerto, CTV - Industri jamu Indonesia dinilai memiliki kekuatan budaya yang mengakar, tetapi belum mampu memberikan kontribusi ekonomi signifikan. Hal itu terungkap dalam riset yang dilakukan Nusantara Centre bersama Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) selama Oktober–Desember 2025.
Berdasarkan olahan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2019–2023, industri jamu tercatat sebagai bagian dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang berkontribusi sekitar 2–3 persen terhadap PDB industri pengolahan. Namun secara spesifik, kontribusi jamu murni terhadap PDB industri obat tradisional masih berada di bawah 0,3 persen pada 2022–2023.
Penulis riset, Agus Rizal dan Heri Susanto, menyebut terdapat kesenjangan antara legitimasi budaya dan capaian ekonomi sektor jamu.“Industri jamu besar dalam identitas dan budaya, tetapi kecil dalam daya ungkit ekonomi. Ini perlu perhatian serius dalam kebijakan nasional,” tulis keduanya dalam rilis media.
Permintaan Stabil, Produksi Rendah
Riset mencatat 64 persen konsumen masih memilih jamu tradisional lokal. Meski demikian, pertumbuhan usaha cenderung stagnan. Sebanyak 46 persen pelaku usaha menyatakan permintaan relatif tetap, dan hanya 31 persen yang mengalami peningkatan penjualan.
Mayoritas produsen masih memproduksi di bawah 500 unit per bulan, dengan skala usaha didominasi model rumahan dan berbasis keluarga.
Di sisi tenaga kerja, lebih dari 79 persen pekerja disebut berada pada kondisi upah tetap atau menurun. Kontribusi fiskal pun dinilai masih rendah, dengan lebih dari separuh pelaku usaha membayar pajak di bawah Rp100 ribu.
Tertinggal dari Farmasi Modern
Jika dibandingkan industri farmasi, pertumbuhan jamu dinilai tertinggal jauh. Data BPS 2020–2024 menunjukkan industri kimia dan farmasi tumbuh di atas 8 persen per tahun. Nilai pasar farmasi nasional diperkirakan mencapai lebih dari Rp170 triliun pada 2023–2024.
Sementara ekspor jamu belum tercatat signifikan dan masih bergantung pada pasar domestik.
Riset juga menyinggung pentingnya integrasi pengobatan tradisional dalam sistem kesehatan, sebagaimana direkomendasikan World Health Organization (WHO) dalam strategi pengobatan tradisionalnya.
Peneliti merekomendasikan pemisahan regulasi jamu dari obat kimia, penguatan riset dan standardisasi, serta dukungan pembiayaan jangka panjang agar industri jamu mampu berkembang menjadi sektor strategis nasional.“Tanpa kebijakan yang tepat sasaran, jamu akan terus hidup sebagai simbol budaya, tetapi belum menjadi kekuatan ekonomi,” tulis peneliti dalam rilis media.

.jpg)

Posting Komentar