74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Saat Warga Binaan Bicara Lewat Musik


BANYUMAS, Senin (2/3/2025) — Sore ini suasana di halaman luar Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Banyumas berbeda dari biasanya. Menjelang waktu berbuka, alunan gitar akustik dan cajon terdengar lembut, mengalun membawakan lagu-lagu religi. Warga yang melintas di sekitar lokasi tampak berhenti, sebagian mendekat, menyaksikan langsung pertunjukan yang tak biasa ini.

Empat warga binaan yang tergabung dalam Rubamas Band tampil sederhana. Tanpa panggung megah, tanpa tata lampu khusus. Hanya kursi, mikrofon, dan alat musik akustik. Namun tepuk tangan pengunjung pecah setiap kali satu lagu selesai dibawakan.

Dari pantauan di lokasi, suasana terasa syahdu. Beberapa keluarga warga binaan terlihat hadir, duduk di barisan depan. Ada yang merekam dengan ponsel, ada pula yang sekadar menatap dengan mata berkaca-kaca.

Kegiatan bertajuk “AKSI Rubamas Berbagi Kasih dan Inspiratif: Akustik Sore Menginspirasi” ini menjadi ruang ekspresi bagi warga binaan untuk menunjukkan hasil pembinaan kepribadian yang mereka jalani selama berada di dalam rutan.

Kepala Rutan Banyumas, Sigit Purwanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dibuka untuk publik sebagai bentuk transparansi.

“Kami ingin masyarakat melihat langsung proses pembinaan di dalam rutan. Warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga proses perubahan diri,” ujarnya di hadapan pengunjung.

Sesi kemudian berlanjut ke talkshow singkat. Salah satu personel band, FT (25), berdiri memegang mikrofon. Suaranya sempat bergetar saat mulai bercerita.

“Di sini saya belajar disiplin dan tanggung jawab. Musik membantu saya menemukan kembali semangat hidup,” katanya. Kalimat itu langsung disambut tepuk tangan hangat dari penonton.

Di sisi lain halaman, ratusan paket takjil tampak dibagikan kepada masyarakat. Kegiatan ini berkolaborasi dengan komunitas Operasi Lapar. Antrean warga mengular tertib, menambah semarak suasana sore.

Petugas rutan juga terlihat aktif berdialog dengan pengunjung, menjelaskan program pembinaan kemandirian dan kepribadian yang selama ini berjalan. Beberapa warga tampak mengangguk-angguk, mendengarkan dengan serius.

Menjelang azan magrib, suasana semakin hangat. Musik terakhir dibawakan dengan penuh penghayatan. Matahari perlahan turun di ufuk barat, menutup rangkaian acara sore itu.

Dari halaman rutan ini, pesan yang ingin disampaikan terasa jelas: di balik tembok tinggi dan jeruji besi, ada proses panjang pembinaan. Ada upaya untuk memperbaiki diri. Dan ada harapan untuk kembali ke masyarakat dengan wajah yang baru.

0

Posting Komentar

-->