74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Extrajoss dan Bobon Santoso di Cap Go Meh Singkawang, Indahnya Keberagaman dan Toleransi yang Menghadirkan Energi Positif


Singkawang, 5 Maret 2026 
– 
Awal Maret tahun ini menghadirkan pemandangan yang begitu istimewa bagi masyarakat Indonesia. Di satu sisi, umat Muslim menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan dengan penuh kekhusyukan. Di sisi lain, masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai daerah pada 3 Maret lalu merayakan Cap Go Meh, penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Dua perayaan berbeda hadir dalam waktu yang sama, berjalan berdampingan dengan damai. Di Singkawang, momen ini terasa semakin bermakna.

Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia itu kembali dipadati ribuan warga dan wisatawan. Suasana meriah terasa di setiap sudut kota. Barongsai meliuk di jalanan, tatung menjalani ritual penuh makna, arak-arakan budaya memikat perhatian, sementara ragam kuliner khas menggoda selera. Tahun ini, kemeriahan tersebut semakin lengkap dengan kehadiran Extrajoss yang kembali bersama Bobon Santoso untuk ketiga kalinya merayakan Festival Cap Go Meh. Memasuki tahun ketiga dukungannya terhadap perayaan ini, Extrajoss terus menunjukkan komitmennya dalam mendampingi Cap Go Meh Singkawang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai minuman berenergi yang telah menjadi pilihan dan kesayangan masyarakat Singkawang.

Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh bukan sekadar seremoni penutup perayaan. Ia melambangkan penyempurnaan, kebersamaan, serta harapan akan keberuntungan yang terus berlanjut. Namun di Singkawang, maknanya terasa lebih luas. Perayaan ini seakan menjadi cermin kehidupan warganya sehari-hari: masyarakat yang beragam, tetapi tetap hidup rukun dan saling menghormati.

Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, mengungkapkan kesannya saat hadir di tengah perayaan. “Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Di sini masyarakatnya tetap rukun, tetap menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata,” ujarnya.

Singkawang memang kerap disebut sebagai simbol harmoni. Masyarakat Tionghoa, Melayu, Dayak, dan berbagai etnis lainnya hidup berdampingan, saling menjaga tradisi masing-masing tanpa saling mengusik. Cap Go Meh di kota ini bukan hanya agenda wisata budaya tahunan, tetapi wujud nyata nilai kebersamaan yang sudah mengakar kuat dalam keseharian warganya.

Hal tersebut juga tercermin dalam Indeks Kota Toleran versi SETARA Institute 2024, yang menempatkan Singkawang di peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia, tepat di bawah Salatiga, dari 94 kota yang dinilai secara nasional. Capaian itu bukan sekadar angka. Ia menggambarkan ruang toleransi yang benar-benar dirawat dan dijaga bersama.

Di tengah berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat belakangan ini, Singkawang menghadirkan wajah Indonesia yang hangat dan menenangkan. Tradisi tetap hidup dan berkembang. Keberagaman tidak hanya diterima, tetapi dirayakan. Perbedaan tidak menjadi jarak, melainkan warna yang memperkaya.

Kehadiran Bobon Santoso menambah nuansa tersendiri dalam perayaan tahun ini. Dikenal sebagai Chef Rakyat Indonesia, Bobon selama ini konsisten mengangkat kuliner dari berbagai daerah sebagai cara sederhana namun kuat untuk merayakan keberagaman. Baginya, makanan selalu memiliki cara yang jujur untuk menyatukan orang-orang. Dalam momen Cap Go Meh di Singkawang, Bobon tidak hanya hadir sebagai figur publik, tetapi juga berbaur dan berbagi energi bersama komunitas tatung dengan membagikan Extrajoss di sela-sela rangkaian acara.


“Menurut saya, Cap Go Meh itu bukan cuma perayaan budaya, tapi juga perayaan rasa. Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa,” ujar Bobon.

Cap Go Meh di Bulan Ramadan, Harmoni yang Tak Sekadar Seremonial

Tahun ini, Cap Go Meh yang bertepatan dengan Ramadan justru memperlihatkan kekuatan toleransi yang nyata dan terasa dekat. Tidak ada yang saling mendominasi. Tidak ada yang merasa terganggu. Semua berjalan pada porsinya masing-masing, dengan saling menghormati.

“Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadan menurut saya indah sekali. Yang menjalankan ibadah tetap khusyuk, yang merayakan tetap penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan,” tutur Bobon Santoso menambahkan.

Bagi Extrajoss, partisipasi dalam perayaan ini membawa makna lebih dari sekadar kehadiran di sebuah acara budaya. Sebagai brand yang identik dengan energi dan semangat pantang menyerah, Extrajoss ingin kehadirannya menjadi simbol dukungan terhadap semangat kebersamaan yang tumbuh di Singkawang, termasuk dengan membagikan Extrajoss gratis kepada 20.000 penonton dan komunitas tatung sebagai simbol semangat. Energi untuk tetap optimis di tengah tantangan. Energi untuk menjaga persatuan. Energi untuk terus bergerak maju bersama.

Di Singkawang, perayaan ini seolah mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun penting: Indonesia selalu punya ruang untuk hidup bersama. Dari kota kecil di Kalimantan Barat ini, pesan itu terasa nyata.

Melalui momentum ini, Extrajoss berharap semangat toleransi dan kebersamaan dari Singkawang dapat menginspirasi masyarakat di berbagai daerah. Karena di tengah tantangan apa pun, energi positif dan rasa saling menghormati akan selalu menjadi fondasi Indonesia. Di Singkawang, Cap Go Meh bukan hanya tentang perayaan. Ia tentang harapan. Tentang keyakinan bahwa perbedaan bisa berjalan berdampingan. Dan tentang energi baik yang, jika dijaga bersama, mampu menguatkan negeri,” pungkas Arwin Nugraha Hutasoit.

0

Posting Komentar

-->