74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Tokoh Sunda Raden Ayu Lasminingrat Tampil di Google Doodle


CTVINDONESIA
- Sosok Raden Ayu Lasminingrat tampil di Google Doodle hari ini, Rabu 29 Maret 2023.


Ilustrasi Raden Ayu Lasminingrat. muncul di halaman depan Google karena bertepatan dengan hari kelahirannya.


Lantas siapakah Raden Ayu Lasminingrat? Dikutip Harmasnews dari jogja.go.id, beliau adalah putri seorang Ulama/Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda, Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria.


Raden Ayu Lasminingrat erlahir dengan nama Soehara pada tahan 1843 merupakan istri kedua dari Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII, Bupati Garut. 


Wafat pada 10 April 1948 dalam usia 105. Jenazah Raden Ayu Lasminingrat dimakamkan di belakang Mesjid Agung Garut, berdampingan dengan makam suaminya.


Tidak banyak orang mengetahui atau mengenal Lasminingrat, yang disebut oleh “Sang Pemula” sebagai pribadi perempuan yang berada di luar zamannya. 


Padahal sebutan itu sendiri mempunyai arti kekaguman yang mendalam terhadap seorang perempuan yang tampil lain dari perempuan pada umumnya. 


Dalam usia ke 32 tahun dalam kesibukannya sebagai isteri ke dua Bupati, ia berhasil menyadurkan banyak cerita karya Grimm yang popular di Eropa. 


Tujuan penyadurannya itu tidak lain agar kaumnya dapat membaca karya-karya penulis Eropa tersebut dan mengambil hikmahnya oleh kaum perempuan Sunda. 


Kumpulan sadurannya itu kemudian diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1875 oleh percetakan milikpemerintah, Landsdrukkerji dengan judul Tjarita Erman. 


Pada tahun berikutnya atau tahun 1876 terbit karyanya yang kedua yang diberi judul Warnasari atawa Roepa-roepa Dongengpun terbit.


Perjuangan Lasminingrat diawali dari dunia kepenulisan. 


Salah satunya buah tangannya dengan menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid, kemudian Warnasari atawa roepa-roepa dongeng. 


Kedua karyanya tersebut telah menjadi salah satu buku pelajaran bukan saja di Garut, tetapi tersebar hingga daerah luar jawa yang diterjemahkan dalam Bahasa Melayu.


Pada tahun 1875, saat Lasminingrat berkarya, tokoh Wanita seperti R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, dan Rahman El-Yunusiyah, yang telah diangkat oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan Nasional dapat dikatakan semua belum lahir. 


Kartini lahir tahun 1879, El-Yunusiyah lahir tahun 1900, dan Dewi Sartika lahir tahun 1884.


Namanya tenggelam dibawah nama ketiga tokoh tersebut, bahkan kalah tenar dengan tokoh Wanita-wanita lainnya yang muncul setelah ketiga tokoh tadi. 


Namun ternyata karyanya tidak ikut tenggelam, baik yang berupa tulisannya yang masih banyak ditemukan sebagai buku bacaan di Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar di Jawa Barat.***


Sumber : harmasnews.com


0

Posting Komentar