Jakarta — Kembalinya reality show kencan Single’s Inferno di Netflix kembali menyita perhatian publik. Tayangan ini menyuguhkan kisah romansa dengan visual menarik, chemistry instan, serta interaksi yang tampak mulus antar kontestan. Namun, para penonton—khususnya para single—diingatkan untuk tidak menyamakan realitas dunia kencan di layar dengan kehidupan nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, proses menjalin hubungan tidak sesederhana seperti yang digambarkan dalam reality show. Kontestan Single’s Inferno sendiri dipilih melalui proses seleksi ketat, dengan standar penampilan, kepercayaan diri, dan kenyamanan di depan kamera yang tinggi. Sementara di dunia nyata, banyak single yang lebih fokus pada karier, berhati-hati secara emosional, atau membutuhkan waktu untuk membangun rasa percaya diri saat berkencan.
Selain itu, kemistri yang terlihat instan di acara tersebut kerap dipengaruhi oleh lingkungan yang intens serta proses penyuntingan. Dalam praktiknya, koneksi yang bermakna biasanya tumbuh secara bertahap melalui komunikasi, kepercayaan, dan pemahaman satu sama lain.
Tantangan lain yang umum dialami single di dunia nyata adalah soal flirting dan komunikasi awal. Tidak semua orang merasa nyaman menggoda atau memulai percakapan dengan mudah. Hal ini dinilai wajar dan dapat dipelajari seiring waktu, bukan menjadi tolok ukur kegagalan dalam berkencan.
Proses pengambilan keputusan dalam hubungan pun sering kali lebih kompleks. Faktor emosional, kesibukan, hingga kesiapan masing-masing individu membuat alur kencan tidak selalu berjalan rapi seperti di layar kaca. Termasuk soal kedekatan fisik, yang dalam kehidupan nyata sangat bergantung pada batasan dan rasa aman masing-masing orang.
CEO Lunch Actually Group, Violet Lim, menilai bahwa kepercayaan diri dalam berkencan bukan sesuatu yang instan.
“Banyak single merasa harus langsung percaya diri dan terbuka secara emosional. Padahal, kepercayaan diri itu dibangun, bukan sesuatu yang dimiliki sejak awal,” ujarnya.
Para ahli pun menyarankan agar Single’s Inferno dinikmati sebagai hiburan semata, bukan panduan berkencan. Single diimbau untuk tidak membandingkan diri dengan narasi reality show, memberi waktu pada proses, serta membangun hubungan dengan ritme yang sesuai dengan diri masing-masing.

Komentar0