TfOoTUW0GpA7BUzoTfz7TUz0TA==

Pemimpin Muda Singapura dan Indonesia Perkuat Hubungan untuk Mendorong Kohesi Sosial



 

Program BRIDGE yang berlangsung selama sepekan membekali para pemimpin muda untuk menjawab tantangan bersama terkait keberagaman dan persatuan

 

Singapura, 21 Januari 2026 – Sebanyak 30 pemimpin muda dari Singapura dan Indonesia berkumpul di Singapura pada 12-16 Januari 2025 dalam program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE), sebuah program pertukaran kepemimpinan pemuda bilateral yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF).

Program BRIDGE mempertemukan 16 pemimpin muda dari Singapura dan 14 pemimpin muda dari Indonesia yang disatukan oleh komitmen bersama untuk memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat multikultural. Melalui pertukaran lintas budaya yang berlangsung secara imersif dan dialog yang kolaboratif, para peserta berkesempatan untuk saling memahami satu sama lain serta membangun persahabatan jangka panjang yang mendukung perdamaian, inklusivitas, dan kemajuan di berbagai komunitas.

Mengusung tema “Fostering Social Cohesion in a Multicultural Society”, program ini menghadirkan rangkaian kegiatan pembelajaran diskusi panel, serta lokakarya penguatan kapasitas yang dikurasi. Berbagai sesi tersebut memberikan pemahaman nyata tentang penerapan praktik kohesi sosial, sekaligus membekali peserta dengan keterampilan praktis dan perspektif baru untuk mendorong perubahan sosial yang positif di komunitas mereka.

Pengalaman pembelajaran imersif yang dirancang untuk memperdalam pemahaman peserta tentang komunitas yang inklusif dan kohesif meliputi:

  • Kepedulian dan Inklusi Komunitas

Tur dengan berjalan kaki bertema sosial yang dipandu oleh social impact hub The Foundry, mengeksplorasi bagaimana inisiatif akar rumput mendorong kepedulian dan inklusi komunitas di kawasan Selegie–Prinsep, sebuah distrik sipil bersejarah di pusat Singapura;

  • Perumahan Publik di Jantung Kota

Kunjungan menyusuri Toa Payoh, kawasan pertama di Singapura yang sepenuhnya dikembangkan sebagai perumahan publik, mengajak peserta memahami bagaimana perumahan publik, institusi komunitas, dan kehidupan sehari-hari masyarakat turut membentuk Singapura modern;

  • Praktik Keharmonian Antaragama

Kunjungan ke galeri edukasi publik Harmony in Diversity Gallery yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun budaya saling memahami dan harmoni antarumat beragama; dan

  • Bercerita untuk Dialog Inklusif

Lokakarya berbasis pengalaman yang difasilitasi oleh perusahaan sosial kreatif dan platform penceritaan The Black Sampan, yang menunjukkan bagaimana cerita digital, makanan, dan budaya dapat menjadi sarana membangun percakapan yang inklusif.

 

Para peserta juga mengikuti diskusi panel yang membahas dasar-dasar kohesi sosial dari perspektif generasi muda serta pendekatan dalam menumbuhkan kepemimpinan pemuda yang inklusif di masa depan. Melalui diskusi yang difasilitasi, peserta mengeksplorasi solusi praktis atas berbagai tantangan sosial yang dihadapi di komunitas dan ekosistem masing-masing.

Dirancang sebagai pengalaman belajar kolaboratif, program yang berlangsung di Singapura ini memungkinkan peserta dari Singapura dan Indonesia untuk bertukar pandangan mengenai isu sosial yang dihadapi bersama. Hal ini mendorong terbangunnya sikap saling memahami, refleksi kritis, serta hubungan antarmasyarakat yang bermakna.

“Berinteraksi langsung dengan berbagai inisiatif komunitas bersama rekan-rekan dari Indonesia membuat saya berhenti sejenak dan merenungkan lebih dalam makna membangun kepercayaan dan pemahaman lintas perbedaan. Mendengarkan cerita dari teman-teman Indonesia juga mengingatkan saya bahwa meskipun konteks kita berbeda, tantangan terkait inklusi dan saling memahami bersifat universal—ini adalah perjalanan yang dimulai dari empati dan berlanjut dengan aksi,” ujar Ms Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden MENDAKI Club, peserta asal Singapura.

“Apa yang kami alami di sini bukanlah proses pembelajaran satu arah, melainkan refleksi dan dialog bersama. Program ini memberi kami kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dan melihat bagaimana berbagai pendekatan dapat diterapkan dalam masyarakat yang beragam. Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata dan mencari cara untuk bersama-sama menciptakan komunitas yang inklusif,” ujar Mr Budy Sugandi, Direktur Buperta Pramuka, peserta asal Indonesia.

Para peserta juga merefleksikan pengalaman pembelajaran yang secara khusus memperdalam pemahaman antarbudaya dan antaragama.

“Kunjungan ke Harmony in Diversity Gallery membantu saya lebih memahami bagaimana Singapura mengatur keberagaman agama dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar rekan-rekan dari Singapura berbagi pengalaman pribadi membuat diskusinya terasa sangat nyata, dan menjadi momen yang bermakna untuk bersama-sama merefleksikan kesamaan yang dimiliki masyarakat kita, sekaligus keunikan masing-masing di Indonesia dan Singapura,” ujar Ms Ulfatun Hasanah, Program Officer INKLUSI Lakpesdam NU, peserta asal Indonesia.

“Mengikuti rangkaian Layered Trails yang dikurasi oleh The Foundry bersama rekan-rekan dari Indonesia memberi saya pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu-isu sosial di negara saya sendiri, sekaligus membuka wawasan terhadap tantangan yang dihadapi para peserta dari negara lain. Saya semakin menyadari bahwa isu-isu seperti hidup berkualitas di usia lanjut, integrasi masyarakat yang beragam, dan pelestarian warisan budaya merupakan tantangan bersama di berbagai negara. Namun, setiap konteks menuntut kita—sebagai pemangku kepentingan dalam masa depan bersama—untuk merespons dengan pendekatan yang penuh empati, berakar pada kondisi lokal, peka terhadap budaya, dan memahami sejarah,” ujar peserta asal Singapura, Mr Chua Hon Wei Marcus, Ed.M., Harvard Graduate School of Education.

Jamuan makan malam pembukaan program yang berlangsung pada 12 Januari dihadiri oleh Mr Thomas Ardian Siregar, Chargé d’Affaires, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Dalam sambutan pembukanya, ia menyampaikan: “Singapura dan Indonesia mungkin berbeda dalam skala dan konteks, tetapi kita dipersatukan oleh nilai-nilai bersama seperti harmoni, keberagaman, dan saling menghormati. Melalui program seperti BRIDGE, para pemimpin muda tidak hanya saling belajar, tetapi juga membangun hubungan dan empati yang dibutuhkan untuk memperkuat kohesi sosial serta melanjutkan dan mempererat hubungan bilateral kedua negara.”

Ms Corinna Chan, Chief Executive Officer Singapore International Foundation, mengatakan: “Di seluruh kawasan ASEAN, masyarakat kita semakin saling terhubung sekaligus semakin beragam, dan para pemimpin muda memegang peran penting dalam menjembatani perbedaan melalui empati dan saling memahami. BRIDGE bukan sekadar program pertukaran, melainkan katalis kolaborasi yang mempertemukan anak muda dari Singapura dan Indonesia untuk berbagi gagasan, menantang perspektif, serta bersama-sama merumuskan solusi guna memperkuat fondasi kohesi sosial. Komitmen para peserta dinilai mencerminkan harapan bagi masa depan yang inklusif, tangguh, dan bersatu.”

Ia menambahkan: “Selama lebih dari tiga dekade, SIF telah membangun kemitraan bermakna antara masyarakat Singapura dan Indonesia untuk mendorong perubahan positif di tingkat antarmasyarakat. Program BRIDGE melanjutkan warisan tersebut dengan memberdayakan para pemimpin muda untuk menerjemahkan nilai-nilai bersama dan dialog menjadi aksi nyata dan berdampak. Melalui hubungan yang terjalin ini, kami berharap dapat menumbuhkan komunitas yang inklusif, di mana tidak ada seorang pun yang tertinggal, sebagai fondasi menuju dunia yang lebih baik.”

Kiprah SIF di Indonesia dimulai sejak 1992, dengan fokus awal pada proyek-proyek penguatan kapasitas di bidang kesehatan dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, SIF juga memperluas inisiatifnya ke bidang iklim dan pengembangan pemuda. Secara global, Program BRIDGE berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Tujuan 4 yaitu pendidikan berkualitas dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua, serta Tujuan 17 yaitu kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.