Penasehat Hukum Kecewa, BRI Banjarnegara Sebagai Tergugat Tidak Hadir Dalam Sidang Perdana Gugatan Perbuatan Melawan Hukum -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Penasehat Hukum Kecewa, BRI Banjarnegara Sebagai Tergugat Tidak Hadir Dalam Sidang Perdana Gugatan Perbuatan Melawan Hukum

Rama Prasetyo
Rabu, 17 Februari 2021


Keluarga Gian Alfianto Ikut hadir di persidangan, beri dukungan moral

BANJARNEGARA - Sidang perdana gugatan perbuatan melawan hukum, dengan pihak BRI Banjarnegara selaku tergugat satu dan Andon selaku karyawan tergugat dua, tidak hadir.

Sidang yang dimulai pukul 10.45 WIB tersebut dipimpin oleh majelis hakim Fitria Septriana SH.

Adapun penggugat yakni M. Supriyanto, Penasehat Hukum, Nanang Sugiri mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Banjarnegara pada 5 Februari 2021 melalui aplikasi E Court.

Kliennya yakni M. Supriyanto diwakili putranya Adie Bastian menggugat BRI Banjarnegara senilai Enam milyar Rupiah.

Kliennya merasa dirugikan, karena sudah mengangsur pinjaman di BRI namun belakangan diketahui jika angsuran yang disetor tidak masuk sistem.

Ade Bastian, bersama ayahnya M Supriyanto, bersama Nanang Sugiri SH usai sidang

Terkait tidak hadirnya pihak tergugat Nanang Sugiri SH mengaku kecewa, karena Tergugat dinilai tidak kooperatif.

Kasus yang dialami kliennya berkaitan kepentingan masyarakat luas. Sehingga kliennya menuntut keadilan dan kepastian hukum.

Mengingat BRI adalah lembaga Perbankan yang sudah mengakar di masyarakat seharusnya bertanggung jawab secara korporat.

Nasabah BRI Korban Oknum ikut hadiri Sidang.

Sejumlah nasabah BRI Banjarnegara yang menjadi korban oknum pegawai datang ke Pengadilan Negeri banjarn Banjarnegara, hari Rabu (17/2/2021).

Gian Alfianto bersama Ibunya Ani Fadilah, datang ke PN Banjarnegara selain ikut memberi dukungan moral kepada Ade Bastian selaku penggugat, dia mengaku ingin mengetahui perkembangan kasus tersebut.

Ani Fadilah warga Wanadadi mengaku mengajukan kredit ke BRI tahun 2016 senilai Seratus dua puluh juta Rupiah.

Menurutnya, pinjaman itu juga pernah diperpanjang. Kemudian bulan April 2020, suaminya mulai curiga, pasalnya saat melakukan print rekening, diketahui ada pemindah bukuan yang tanpa sepengetahuan dirinya.

Selain itu sisa Saldo pinjaman yang seharusnya tinggal empat puluh juta Rupiah, ternyata jumlahnya masih diatas seratus juta Rupiah.

"Waktu kita mengangsur juga di kantor BRI, tapi kenapa nilai pinjaman tidak berkurang? Ialu kami kejar minta informasi ke pimpinan cabang," jelasnya.

Dia menyebutkan dari pihak BRI bersama Andon juga pernah datang ke rumah. Saat itu Andon mengaku jika uang angsuran di salah gunakan.

Saat ditanya wartawan apakah pernah lapor ke penegak hukum, Ani Fadilah mengaku sempat bingung sebab, dia memiliki bukti setor angsuran yang dikeluarkan oleh BRI.

Setelah mengetahui keluarga Ade Bastian melakukan gugatan, dirinya juga berencana untuk mencari keadilan.

Korban lain yakni Wahyu Subandi warga RT 2 RW 4, pinjam BRI dua koma delapan milyar Rupiah tahun 2014.

Sudah tiga tahun mengangsur, Mei 2020 lalu baru tau jika setorannya tidak masuk.

"Harusnya pinjaman sudah lunas, tapi saat print rekening saldo pinjaman masih dua koma satu milyar rupiah, "ungkapnya.

Terkait dengan apa yang dialami, pihaknya juga akan menuntut keadilan.

"Jika tidak ada itikad baik, kami berencana menempuh jalur hukum," ujarnya.

Sementara itu Rio dari perwakilan BRI saat dikonfirmasi terkait ketidakhadiran di sidang perdana, mengaku tidak bisa berkomentar.(Rama)