Mahasiswa Unsoed Kembangkan Sistem Peringatan Dini Sederhana Pergerakan Tanah -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Mahasiswa Unsoed Kembangkan Sistem Peringatan Dini Sederhana Pergerakan Tanah

Rama Prasetyo
Kamis, 21 Januari 2021


PURWOKERTO - Berbagai bencana yang sering terjadi di wilayah Indonesia membutuhkan peran banyak pihak untuk mengantisipasinya.

Berawal dari keprihatinan akan bencana tersebut mahasiswa jurusan Fisika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berinisiatif untuk merancang sistem peringatan dini (Early Warning Sistem (EWS) pergerakan tanah sederhana untuk mengantisipasi adanya tanah longsor. 

Tim mahasiswa Fisika yang terdiri dari Tito Yudatama, Ariska Pratiwi, Agung Pamilu, dan Wahyu Krisna Aji telah mempresentasikan alat tersebut di BPDB Kabupaten Magelang dan BPDB Kabupaten Wonosobo.

Ketua tim, Tito Yudatama mengungkapkan bahwa bencana tanah longsor merupakan salah satu bencana dengan frekuensi terbanyak se-Indonesia. 

“Bahkan dari tahun ke tahun hampir selalu menempati tiga besar setelah banjir, dan angin puting beliung," ungkapnya di Purwokerto, Kamis (21/1/2021). 


Dia menambahkan tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh lokasi rawan bencana pergerakan tanah. 

“Wilayah sekitar Unsoed yaitu Banyumas, Purbalingga, Wonosobo, Banjarnegara, dan wilayah sekitarnya adalah yang termasuk memiliki cukup banyak daerah kategori rawan pergerakan tanah,” katanya. 

Selain dilatarbelakangi bencana yang sering terjadi, perancangan alat itu didorong oleh harga EWS yang sudah ada memiliki harga yang cukup tinggi bagi masyarakat biasa. 

Menurut Tito, alat yang tersedia di pasar bervariasi antara tiga juta lima ratus ribu rupiah hingga ratusan juta rupiah. 

"Hal tersebut tentu tidak sebanding dengan banyaknya wilayah yang rentan pergerakan tanah,” ucapnya. 

Karena itu, dia mencoba mengembangkan EWS yang memiliki rentang harga dapat dijangkau oleh masyarakat, yaitu antara tiga ratus lima puluh ribu hingga empat ratus ribu rupiah.

EWS yang dirancang mahasiswa Unsoed tersebut merupakan pengembangan dari BPDB Kabupaten Magelang. 

Selain itu dikembangkan dari segi desain yang berfokus pada fungsi yaitu lebih tahan hujan, dibuat dual channel, dan baterai yang dapat di isi ulang. 

Tito menyebutkan prinsip kerja alat ini yaitu menggunakan pasak yang dipasang melintang terhadap rekahan tanah dengan penghubung kawat baja terhadap jack power dan swith. 

“Apabila terjadi pergerakan tanah yang menjauhkan posisi pasak dari sumber alat, maka kawat baja akan mencabut jack power dari switch, sehingga akan menghidupkan sirine yang mendapat masukan energi dari baterai 9 volt sebagai tanda peringatan dini,”lanjutnya.

Kelebihan alat itu menurut Tito, selain murah juga karena sederhana sehingga masyarakat juga dapat membuatnya. 

Untuk pemasangannya alat ini dipasang untuk lokasi-lokasi rawan longsor yang dekat dengan pemukiman. 

"EWS ini telah dipresentasikan di BPBD Kabupaten Wonosobo untuk mendapat masukan lebih lanjut," pungkasnya. 

Tito juga akan memasukannya ke dalam jurnal nasional bersama tim penulis. 

Tito yang juga menggarap sosial project bernama kolaborasi pemuda bersedekah itu, berencana akan mengadakan galang dana bersama beberapa organisasi mahasiswa dari Unsoed, dan komunitas di luar Unsoed guna dikerjakan bersama yang kemudian dihibahkan ke BPBD Kabuapaten Banyumas apabila disetujui.(Ram)