Pakar IT Telkom : "Jangan Main Main Dengan Data, Jejak DIgital Takkan Hilang" -->

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Pakar IT Telkom : "Jangan Main Main Dengan Data, Jejak DIgital Takkan Hilang"

Redaksi
Kamis, 28 Januari 2021

 


PURWOKERTO - Berbagai kalangan unsur akademisi dan jurnalis berhasil membongkar data digital yang sebelumnya telah dihapus. Hal itu terjadi saat Institut Teknologi ( IT ) Telkom Purwokerto memberikan pelatihan digital forensik pada sejumlah wartawan, dan para pegiat digitalisasi di Banyumas, Kamis siang (28/1/2021) digedung serbaguna IT Telkom. Pelatihan ini di inisiasi oeh sebuah grup WA yakni Pers dan Mitra Kerja dengan peserta yang hadir sebanyak 15 Jurnalis cetak, eletronik dan televisi serta tokoh perempuan dan anak DR. Tri Wuryaningsih, tokoh lingkungan hidup Edy Wahono, 

Dosen ahli digital forensik Wahyu Adi Prabowo dalam penjelasannya mengatakan pemahaman seluk beluk digital forensik terutama proses pembuktian suatu kasus yang menggunakan ilmu digital forensik sangat dibutuhkan, utamanya dalam mengungkap fakta yang dianggap meragukan.


Disini aparat terutama penegak hukum  menggunakan ilmu digital forensik guna mengidentifikasi bagaimana proses pengambilan barang bukti dan proses pembuktian suatu perkara,"katanya.

Menurutnya kejahatan berbasis teknologi dan siber dalam berbagai modus meningkat,  maka diperlukan suatu mekanisme ilmiah untuk menganalisa dan menelusuri bukti-bukti elektronik yang ada baik yang disimpan maupun yang ditransmisikan melalui komputer atau perangkat digital lainnya. 

"Dalam berbagai kasus kerap kali situasi untuk mengungkap suatu kebenaran sangat bergantung penelusurannya terhadap bukti-bukti digital yang ada, terutama untuk mengungkap suatu perkara,"katanya.

Ditambahkan, masyarakat juga diharapkan lebih berhati hati terhadap data yang telah masuk proses digitalisasi, mengingat data tidak akan pernah lenyap bila ditelusuri dengan digital forensik. Utamanya adalah penggunaan flasdis, gadget yang sering digunakan orang lain. Dikhawatirkan digunakan pula untuk modus yang kejahatan.

"Sebaiknya bila flasdis, ataupun gadget yang bisa menyimpan data digital rusak, hancurkan saja sekalian untuk menghindari  penyalahgunaan, maka bijaklah dalam bermain data,"terangnya.

Dalam pelatihan digital forensik tersebut, TIMES Indonesia dan para jurnalis dari berbagai media ternama  serta tokoh Banyumas yang ahli dibidang masing masing mempraktekan upaya pencarian dan memeriksa keaslian data yang telah terhapus di flasdis. Dan ternyata benar, dengan menggunakan beberapa metode, file maupun sebuah foto yang telah melalui proses editing pun dapat diketahui jejak digitalnya.

Edy Wahono mengaku sangat bangga dengan kolaburasi ini. Menurutnya dengan pelatihan ini semakin dapat memahami arti pentingnya digitalisasi, sehingga kedepan tidak sembarangan mengaplod foto maupun data lainnya."Ini sesuatu yang positif, masyarakat bisa lebih waspada terutama menangkal berita hoax, "katanya.

Dijelaskan sebuah chips seperti flasdis penyimpanan data, terdiri dari beberapa sektor sebagai kotak penyimpanan. Misalnya sektor satu untuk menyimpan gambar, video disektor dua, dan seterusnya. Saat flasdis dibuka kembali namun tidak terbaca atau rusak. "Nah persoalan ini yang perlu diwaspadai karena dalam chips terdapat tempat penyimpanan lain yang disebut Sedo yakni penyimpanan kloning, jadi hati hati ketika ketika chips jatuh ke tangan orang lain atau rusak, hancurkan saja,"pungkasnya.(*)