74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Pengembangan Sarana Olahraga Paralayang Di Watu Kumpul Diperkirakan Butuh Dana Rp. 500 Juta


Lokasi Pengembangan Olahraga Paralayang Di Watu Kumpul Desa Petahunan Pekuncen

Banyumas - Pemgembangan sarana untuk kegiatan cabang olahraga Paralayang di Watu Kumpul, Desa Petahunan Kecamatan Pekuncen diperkirakan membutuhkan dana Rp. 500 juta.

Hal itu diungkapkan oleh Bupati Banyumas Achmad Husein saat mencoba cabor tersebut, Sabtu (8/8/2020).

"Paling ini sekitar Rp 500 juta, perbaikan sarana pengembangannya diantara lain pada bagian landasan dan sisi timur untuk pelatihan. Nantinya akan bekerjasama dengan atlet paralayang akan kita himpun pula, anak-anak yang berminat belajar olahraga paralayang ini," terangnya.

Pada kesempatan itu, di lokasi pengembangan aerosport tersebut, Bupati Banyumas Achmad Husein dan istrinya memberanikan diri terbang dengan paralayang.


"Subhanallah naik Paralayang terlihat begitu indah ciptaan Tuhan. Pemandangannya indah, Bikin nagih. Tapi di atas kurang lama karena anginnya sedang kurang bagus. Saya sudah mencoba paralayang tiga kali ini, tapi kalau di Watu Kumpul ini baru yang pertama kali," ungkapnya usai melakukan uji coba.

Dia sangat antusias dan mendukung penuh bukit Watu Kumpul menjadi tempat wisata sekaligus pengembangan olahraga kedirgantaraan seperti paralayang.

Untuk itu Bupati menghendaki adanya peningkatan sarana dan prasarana agar semakin menunjang olahraga paralayang di Banyumas.

"Kedepannya akan ada dua spot dimana sisi sebelah timur untuk area pelatihan dan sisi barat untuk wisata," ujarnya.

Karena tanah yang digunakan untuk pengembangan cabor paralayang itu milik Perhutani maka perlu ada kerjasama.

"Tanah ini adalah milik perhutani dan perlu melakukan kerja sama dan perizinan terlebih dahulu," tandasnya.

Ketika mencoba terbang Bupati didampingi oleh atlet Paralayang asal Banyumas, Muhibin dan Erna Husein didampingi oleh altet Damar Asis Prasetya.

Aset Kedirgantaraan Baru Di Banyumas

Sementara itu, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyumas, Bambang Setiawan mengatakan jika bukit Watu Kumpul menjadi aset baru olahraga kedirgantaraan di Banyumas. 

Untyk pengembangan, pihaknya bersama Pemkab Banyumas sedang mengupayakan membuat dua track olahraga aero sport khusus untuk gantole dan paralayang.

"Untuk gantole itu sendiri butuh landasan lari sedikit paling nanti itu yang perlu dibenahi. Ini sangat bagus potensinya karena ada wisatanya juga yang akan mendukung," katanya.

Bahkan menurutnya, bukit Watu Kumpul, Pekuncen dapat dijadikan sebagai tempat yang layak menggelar kejuaraan baik nasional dan internasional. 

Hal tersebut berdasarkan survey di beberapa tempat di Banyumas, dimana bukit Watu Kumpul dianggap yang paling baik.

Survey tempat untuk latihan paralayang kata Bambang, tidaklah sembarangan. Ada beberapa syarat seperti bagaimana kondisi angin sepanjang tahun, adanya tempat landing atau mendarat bagi para atlet yang baik.

Sedangkan Pembina atlet Paralayang Banyumas, Didi Hartanto mengungkapkan
pada prinsipnya olahraga paralayang membutuhkan lokasi ketinggian, seperti bukit. 

Selain sebagai objek wisata, kata Didi Hartanto hutan pinus dan swafoto, Bukit Watu Kumpul juga mempunyai kontur tanah yang bagus untuk Paralayang.

"Paralayang ini membutuhkan angin lembah dan angin gunung, untuk mengangkut parasut. Watu kumpul mempunyai lokasi yang pas dan baik untuk take of dan landing," katanya.

Menurut dia, Banyumas notabene pernah menjadi tuan rumah PON Propinsi dan menjadi juara umum, sudah sepantasnya mempunyai latihan paralayang sendiri.

Apalagi dengan potensi atlet dan tempat yang ada sangat baik untuk dikembangkan.

"Dari segi angin bagus, ada kontur perbukitannya, ada cerukan lembah, kita ingin tahu dulu turbulensi angin, sehingga ketika ada orang-orang luar kota yang akan mencoba disini tau dimana lokasi turbulensi maka dari itu perlu survey," katanya. 

Terkait evaluasi dan perbaikan sarana pendukung, perlu ada perbaikan terutama terkait landasan pacu para atlet. Menurutnya kemiringan landasan pacu untuk take off paralayang yang ideal adalah sekitar 15-45 derajat.

"Yang penting angin itu masuk ke arah parasut, kalau mengembangkan gak ada angin, akan susah. Kalau ada landasan pacu, atlet lari sedikit saja sudah bisa terbang, maka dari itu landasan pacu perlu diperbaiki," tandasnya.

Selain itu, lanjut Didi Hartanto, perlu ada pembatas antara penonton dan penerjun supaya tetap aman.

"Bukit Watu Kumpul potensial menjadi lokasi paralayang karena lokasinya tidak dekat dengan area penerbangan umum ataupun militer," imbuhnya.(Rama) 
0

Posting Komentar